Menyedihkan Melihat Anak-anak Gaza, Tubuh Tinggal Tulang Karena Kelaparan

GELORA NEWS – Situasi warga Palestina di Gaza terutama anak-anak sangat menyedihkan. Tidak cukupnya bantuan yang menjangkau warga di Gaza, menyebabkan anak-anak menghadapi kelaparan yang nyata. Mengerikan melihat gambar anak-anak yang tubuhnya tinggal tulang karena kelaparan.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) telah mengeluarkan peringatan tentang situasi kelaparan yang dialami anak-anak di Gaza. OCHA mendesak Israel untuk mematuhi hukum internasional dengan memfasilitasi pengiriman bantuan yang aman ke Jalur Gaza.

“Menurut saya, mereka tentu saja tidak mendapatkan jumlah yang sangat mereka perlukan untuk mencegah kelaparan, untuk mencegah segala jenis kengerian yang kita lihat,” kata juru bicara OCHA Jens Laerke, mengutip Al Mayadeen. Ia menegaskan, menurut hukum humaniter internasional, otoritas Israel wajib membantu pengiriman bantuan ke Jalur Gaza yang diblokade.

Ketika menjawab pertanyaan mengenai hambatan dalam mengakses bantuan, juru bicara OCHA menyatakan bahwa tugas pengiriman bantuan seharusnya tidak berhenti di perbatasan. “Tidak berhenti ketika Anda turun hanya beberapa meter melintasi perbatasan kemudian pergi dan menyerahkannya kepada lembaga kemanusiaan. Mereka tidak dapat melewati zona pertempuran aktif untuk mengambilnya. Jadi, bantuan yang masuk tidak sampai ke masyarakat.”

Laerke juga menekankan bahwa penyeberangan darat untuk konvoi bantuan ke Gaza sangatlah penting, karena merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan [bantuan] dalam skala besar dan cepat. Ia menyoroti perlunya lebih banyak penyeberangan darat yang terbuka dan aman untuk memastikan bantuan dapat disalurkan secara efisien.

Pernyataan tersebut bertepatan dengan kejadian tragis dimana seorang anak Palestina berusia 13 tahun Abdul Qader al-Sarahi meninggal secara tragis karena kelaparan. Tragedi itu terjadi menyusul penutupan perbatasan Rafah oleh Israel sehingga menghalangi akses bantuan kemanusiaan.

Bayi Palestina berusia tujuh bulan, Fayez Abu Ataya, juga meninggal secara tragis di Gaza tengah karena kekurangan susu dan obat-obatan akibat blokade Israel yang menghancurkan. Fayez, yang tampak hanya sebagai kerangka, terekam dalam video saat ia meninggal karena kelaparan dalam pelukan ayahnya di Rumah Sakit al-Aqsa di Deir al-Balah.

Kepala kantor badan bantuan PBB OCHA di Wilayah Palestina yang diduduki, Andrea De Domenico, menekankan pada hari Senin (3/6/2024) bahwa krisis kemanusiaan di Rafah telah meningkat ke tingkat kritis. Dia menggarisbawahi semakin berkurang dan penuhnya ruang yang tersedia bagi warga sipil untuk berkumpul dan mencari perlindungan.

De Domenico berbagi pengamatannya dari perjalanannya baru-baru ini ke Gaza, menyoroti situasi mengerikan di Rafah dan dampak parah serangan udara Israel terhadap warga sipil. “Peristiwa di Rafah sejak 7 Mei diikuti dengan perpindahan hingga hampir satu juta orang yang mengungsi selama berbulan-bulan di Rafah dan kini mereka telah pindah secara tiba-tiba… Hasilnya adalah bahwa ruang yang tersisa bagi warga sipil untuk berkonglomerasi dan keluar semakin menyempit, semakin padat,” tegas De Domenico dalam konferensi pers virtual di PBB.

De Domenico menggambarkan masyarakat Gaza sebagai tamu yang sangat ramah dan tangguh, mengakui kehangatan dan kekuatan mereka. Namun, ia mencatat bahwa keadaan buruk yang sedang berlangsung secara bertahap “semakin mengikis tatanan ini secara progresif.”

Lebih lanjut dia mengatakan, seluruh rumah sakit di Rafah sudah tidak beroperasi lagi, hanya menyisakan rumah sakit lapangan untuk memberikan pelayanan medis. Dengan sekitar 950.000 orang yang tersisa di Rafah, ia menyoroti bahwa kondisi operasional di wilayah tersebut terus menimbulkan tantangan yang signifikan. “Perspektif terjadinya perang hingga akhir tahun sungguh menakutkan dalam pikiran saya,” katanya.

* Artikel berita ini bersumber dari media Online (Gelora News)

Leave a Comment